Penyakit Tapi Bukan Penyakit : Menguap

Menguap

Menguap adalah tindakan refleks yang terjadi pada semua orang, biasanya dilakukan untuk menghirup udara dalam jumlah banyak dan diikuti dengan pernapasan.
Tindakan refleks ini seringkali dikaitkan dengan stres, kelelahan, terlalu banyak kerjaan, kebosanan dan mengantuk. Menguap juga bisa terjadi bila ada kelebihan karbondioksida atau kelangkaan oksigen dalam aliran darah.
Studi terbaru menunjukkan menguap bukan saja sebagai tanda seseorang ingin tidur, tubuh kecapean atau karena bosan. Tapi tujuan menguap untuk mendinginkan otak sehingga dapat beroperasi lebih efisien dan membuat seseorang tetap terjaga.
Jika seseorang menguap, maka ada tahapan yang terjadi adalah:
  1. Dimulai dengan mulut terbuka
  2. Rahang bergerak ke bawah
  3. Memaksimumkan udara yang mungkin dapat diambil ke dalam paru-paru
  4. Menghirup udara
  5. Otot-otot perut berkontraksi
  6. Diafragma didorong ke bawah paru-paru
  7. Terakhir beberapa udara ditiupkan kembali.
1. Menguap Bisa Menular
Ini benar, dan mungkin Anda juga pernah mengalaminya. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa ketika ditunjukkan video orang yang tengah menguap, sekitar 50 persen orang akan ikut menguap. Hal ini bahkan terjadi pada hewan! Sebuah penelitian tahun 2004 menemukan bahwa hewan juga ikut menguap ketika melihat hewan lain atau bahkan manusia menguap.
Namun tampaknya hal ini bukan hal yang aneh. Robert Provine, seorang psikolog dan ahli saraf menjelaskan bahwa beberapa reaksi manusia memang bisa menular pada orang lain seperti tawa dan kebiasaan menguap. Orang yang mudah ‘tertular’ ketika melihat orang lain menguap juga dianggap memiliki rasa empati dan kepedulian sosial yang tinggi.
“Kami berpikir penyebab menguap itu menular karena dipicu oleh mekanisme empatik yang berfungsi untuk menjaga kewaspadaan kelompok. Karenanya menguap adalah tanda empati,” ujar seorang peneliti Dr Gordon Gallup, seperti dikutip dari BBCNews, Kamis (8/4/2010).
Penyebab lain menularnya menguap karena aktifnya sistem saraf cermin (mirror neurons system) yaitu neuron yang terletak di bagian depan setiap belahan otak vertebrata tertentu
Ketika menerima stimulus (rangsangan) dari spesies yang sama, maka spesies tersebut juga akan mengaktifkan daerah yang sama di otak. Hal inilah yang menyebabkan seseorang akan menguap jika melihat oang lain menguap.
Sistem saraf cermin ini bertindak sebagai penggerak untuk meniru dan bertanggung jawab terhadap pembelajaran manusia. Karenanya menguap sering dianggap sebagai cabang dari impuls (gerakan) tiruan yang sama.
Jika pusat dari sistem neuron cermin tidak aktif saat melihat seseorang menguap, maka hal ini tidak akan memiliki hubungan dengan keinginan merespons untuk menguap.
2. Menguap Lebih Menular Antar Sahabat
Sebuah penelitian tahun 2012 menunjukkan bahwa tak semua kebiasaan menguap bisa menular. Menguap bisa sangat menular antar sahabat atau seseorang dengan hubungan yang dekat. Peneliti menunjukkan bahwa semakin dekat hubungan Anda dengan seseorang maka semakin besar kemungkinan Anda akan tertular ketika mereka menguap. Hal ini masuk akal mengingat adanya teori empati pada poin pertama.
Semakin kuat seseorang ingin menguap, maka semakin kuat aktivasi dari bagian otak periamygdalar kiri. Hasil temuan ini merupakan tanda neurofisiologis pertama yang mengungkapkan bahwa menguap bisa menular. Daerah periamygdalar adalah zona yang terletak di samping amigdala dan struktur bentuknya seperti kacang almond yang terletak jauh di dalam otak.
Aktivasi beberapa bahan kimia yang ditemukan di otak, misalnya, serotonin, dopamin, glutamin, asam glutamat dan oksida nitrat, dapat pula meningkatkan frekuensi menguap. Sedangkan beberapa bahan kimia lain seperti endorfin justru bisa mengurangi frekuensi menguap.

3.Menguap Bisa Jadi Tanda Sebuah Penyakit
Menguap mungkin bukan tanda penyakit yang sangat serius atau berbahaya. Namun jika Anda terus-terusan menguap, ini bisa menandakan ada hal yang salah dengan kesehatan Anda. Bisa jadi berhubungan dengan otak, jantung, saraf, atau masalah tidur.
Beberapa studi menunjukkan manfaat dari menguap yaitu dapat menstabilkan tekanan di kedua sisi gendang telinga atau mirip dengan peregangan, melenturkan otot dan sendi pada tubuh serta meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung.
Menguap berlebihan jika dalam 1 menit seseorang menguap 1-4 kali. Menguap berlebihan bisa jadi tanda penyakit serius.
“Ada beberapa hal yang terjadi ketika menguap. Rahang yang terbuka dan memungkinkan menghirup napas panjang. Hal ini, meski sesaat, menciptakan tekanan besar di paru-paru,” papar staf pengajar di Departemen Neurologi FK Unair ini.
Sebagian besar gangguan yang berhubungan dengan menguap berasal dari sistem saraf pusat, yakni epilepsi, radang otak, atau tumor otak. Menguap juga menjadi tanda dari reaksi vasovagal. Bisa juga menjadi tanda kecemasan atau rasa bosan.
“Orang menguap untuk berbagai macam alasan. Tidak selalu berarti mengantuk,” tuturnya.
Menurut Prof. Machfoed, ilmuwan percaya menguap dapat membantu kita menjadi lebih waspada untuk segera memasukkan oksigen ke otak. Karena menguap adalah salah satu tanda jumlah oksigen di otak menurun yang bisa membuat kita sulit konsentrasi.
Ilmuwan lain beranggapan, menguap justru membantu mengatur suhu tubuh. Dengan menguap, terjadi proses menaikkan tensi dan laju jantung.
Umumnya, menguap tidak berbahaya, walau bisa juga menjadi pertanda kondisi medis yang serius. “Orang-orang yang memiliki penyakit saraf seperti multiple sclerosis dan amyotropic lateral sclerosis (ASL) akan menguap lebih sering dari orang normal,” tuturnya.
Orang dengan tekanan darah rendah, misalnya sekitar 90/60 mmHg, juga cenderung Bering menguap yang diikuti rasa mengantuk. Tekanan darah rendah juga membuat orang sering pusing, cepat lelah, dan penglihatan kabur.
Tekanan darah rendah membuat kurangnya darah yang dipompa jantung. Jika darah yang dipompa jantung semakin sedikit, akan semakin rendah tekanan darahnya. Akibatnya, jantung atau otak kekurangan pasokan oksigen dan yang bersangkutan menjadi Bering menguap, pusing, atau lelah.
Banyak menguap, diungkapkan, juga bisa karena reaksi terapi radiasi untuk kanker, atau konsumsi obat-obatan seperti untuk penyakit parkinson. Beberapa antidepresan seperti paroxetine dan setraline bisa menyebabkan menguap berlebihan. Yang menarik, pengidap skizofrenia justru jarang menguap.
Hampir semua makhluk vertebrata selalu menguap. Bahkan, janin manusia mulai menguap ketika berusia 11 minggu. Namun, jika Anda kerap menguap, 1-4 kali dalam satu menit, jangan Began untuk ke dokter.
Sering menguap juga bisa dikarenakan kondisi kelelahan yang teramat sangat. Kelelahan ternyata bisa juga berhubungan dengan adanya infeksi saluran kencing, akibat kontaminasi bakteri Escherichia coli. Bila Anda Sering menguap melebihi Batas normal, cobalah memeriksakan urin ke dokter. Siapa tahu mengalami UTI (urinary tract infection).
Diet ketat sampai tubuh tak cukup mendapat asupan gizi, juga bisa mencetuskan kelelahan. Kalori sama halnya dengan energi. Mengonsumsi makanan dalam porsi seimbang akan membuat kadar gula darah terjaga normal, dan rasa kantuk enggan mendekat.
Disarankan memilih karbohidrat kompleks agar mendapatkan energi yang cukup. Terlalu banyak menyantap nasi putih, mi, kue, atau roti, yang termasuk dalam deretan karbohidrat sederhana, malah mengundang kantuk.
Kelelahan juga bisa disebabkan asupan makanan yang dapat memicu alergi. Selain itu, konsumsi kafein bisa pula membuat tubuh yang sudah letih menjadi semakin letih.

4.  Janin Juga Bisa Menguap
Tumbuh dari embrio menjadi manusia yang utuh adalah sebuah proses panjang. Berkat perkembangan teknologi Ultrasonografi, para ilmuwan dapat mengetahui bahwa janin yang tumbuh di dalam rahim bukan cuma cegukan, menelan atau menggeliat, tapi juga menguap.
Menggunakan pemindaian USG 4 dimensi, para peneliti mengamati 15 janin sehat. Hasil pengamatan itu mengungkapkan bahwa menguap mungkin termasuk dalam proses perkembangan janin.
Sebelumnya beberapa ilmuwan tidak sependapat kalau janin menguap. Menurut mereka, janin hanya sedang belajar membuka mulut. Namun dalam jurnal PLOS ONE, para ilmuwan dari Inggris menyebutkan bahwa aksi membuka mulut janin itu memang sedang menguap dilihat dari lamanya ia membuka mulut.
Menurut Nadja Reissland dari Durham University yang memimpin penlitian ini, belum diketahui manfaat menguap pada janin. Tetapi mungkin hal itu berkaitan dengan perkembangan janin. Dengan demikian, nantinya dokter bisa memeriksa apakah janin menguap atau tidak untuk memprediksi kesehatannya.
“Tidak seperti kita, janin tak menguap karena mereka mengantuk. Malah, frekuensi menguap mereka berkait erat dengan pematangan otak di kandungan,” katanya.
Penelitian itu dilakukan terhadap 8 janin perempuan dan 7 janin laki-laki berusia 24-36 minggu kehamilan. Frekuensi janin menguap akan berkurang di usia 28 minggu.

5. Durasi Menguap = 6 Detik
Mungkin belum ada penelitian yang bisa menjelaskan teori ini, namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa rata-rata seseorang menguap selama enam detik. Selama enam detik itu, detak jantung meningkat. Sebuah penelitian tahun 2012 juga menunjukkan bahwa psikologis dan tubuh manusia berubah sebelum dan setelah menguap. Tubuh dan mental berubah hanya dalam waktu enam detik. Selain itu, mereka juga menemukan bahwa efek menguap pada tubuh ini tak bisa digantikan dengan apapun, bahkan dengan cara menarik napas panjang.

6. Efek Menguap Pada Penderita Autis
Belakangan ini, sebuah studi lain di tahun 2007 mengemukakan bahwa anak dengan gangguan autism tidak mengalami peningkatan frekuensi menguap setelah melihat video orang-orang yang menguap. Hasil ini berkebalikan dengan hasil anak lain yang normal. Dari studi ini, mereka menyimpulkan bahwa penularan menguap disebabkan oleh empati.

7. Efek Menguap Pada Binatang Peliharaan
Setelah mengetahui seluk-beluk mengenai menguap pada manusia, ternyata penularan menguap juga dapat terjadi pada hewan. Sebuah studi lain di Universitas London menunjukkan bahwa menguap dapat menular dari manusia ke anjing. Hasil studi tersebut adalah dari 29 anjing yang dilakukan percobaan di mana seseorang menguap di depan mereka, ternyata ada 21 anjing yang ikut menguap juga. Hal ini tidak terjadi ketika orang tersebut hanya membuka mulutnya, tidak menguap. Mungkin Anda dapat mencobanya sendiri di rumah.

8. Menguap Tanda Otak Panas
Para peneliti dari Austria, seperti dikutip situs Health Day edisi 8 Mei 2014, menemukan bahwa jumlah kuapan setiap orang berbeda-beda, tergantung pada temperatur udara. Karena itu, orang jarang menguap di luar ruangan karena temperatur di luar biasanya sangat panas atau sangat dingin.
Dalam penelitian terbaru, tim yang dipimpin oleh Jorg Massen dari University of Vienna mendata kebiasaan menguap orang-orang yang beraktivitas di udara terbuka di Vienna, Austria, selama musim panas dan musim dingin. Para ilmuwan kemudian membandingkan hasil tersebut dengan eksperimen sejenis yang dilakukan di Arizona. Partisipan dalam semua studi itu diminta melihat gambar orang yang menguap untuk mencari tahu ihwal “kuap yang menular”, dan kemudian melaporkan perilaku menguap mereka sendiri.
Orang-orang di Vienna ternyata menguap lebih banyak pada musim panas ketimbang musim dingin, sementara hal yang sebaliknya terjadi di Arizona. Para ilmuwan juga menemukan bahwa kuap yang menular lebih kerap terjadi saat suhu udara sekitar 68 derajat Fahrenheit. Kuap jarang muncul saat suhu udara lebih tinggi dari itu, atau sekitar 98,6 derajat Fahrenheit selama musim panas di Arizona atau sekitar titik beku selama musim dingin di Vienna. Hasil riset ini dipublikasikan secara online di jurnal Physiology & Behaviour.
Seperti yang diijelaskan oleh para peneliti, kuap untuk mendinginkan otak tidak terjadi ketika suhu di udara terbuka sepanas suhu tubuh seseorang atau malah lebih panas. Bahkan, kata Massen, pendinginan otak ada kemungkinan tidak terjadi pada musim dingin. Pendinginan otak bisa meningkatkan kemampuan otak sehingga kuap yang menular bisa menjadi kebiasaan evolusioner yang berarti meningkatkan kesiagaan secara menyeluruh sekelompok orang.

(Dari berbagai sumber)

No comments

Powered by Blogger.